Maros,Sulsel-Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Provinsi Sulawesi Selatan 2026 di Maros kini menjadi sorotan tajam publik. Kegiatan keagamaan berskala provinsi tersebut dinilai penuh misteri dan tanda tanya, terutama terkait transparansi anggaran serta dugaan permainan oleh oknum panitia.
Sorotan keras sebelumnya telah dilontarkan sejumlah aktivis terkait sikap panitia yang dinilai enggan membuka secara transparan total anggaran kegiatan, sumber pendanaan, hingga rincian realisasi penggunaan anggaran kepada publik.
“Ini kegiatan besar yang menggunakan anggaran yang seharusnya bisa dipertanggungjawabkan secara terbuka. Tapi sampai sekarang publik tidak mendapatkan penjelasan rinci terkait total anggaran dan penggunaannya,” ungkap salah satu aktivis di Maros.
Bonus Juara Diduga Dipotong Pajak Dua Kali
Kini polemik kembali mencuat setelah muncul dugaan adanya pemotongan bonus juara secara tidak wajar terhadap peserta MTQ.
Salah satu sumber yang diwawancarai awak media mengaku bonus juara yang diterimanya telah otomatis dipotong sebesar 2,5 persen dengan alasan pajak. Namun setelah kegiatan selesai, dirinya kembali diminta menyerahkan tambahan 2,5 persen.
“Waktu bonus masuk ke rekening, sudah langsung terpotong 2,5 persen. Tapi setelah kegiatan selesai, kami kembali diminta transfer 2,5 persen ke rekening pribadi atas nama inisial MYJ di bank BRI,” ungkap sumber tersebut.
Ironisnya, menurut sumber itu, permintaan transfer dilakukan bukan melalui rekening resmi panitia maupun rekening lembaga, melainkan ke rekening pribadi seseorang.
Hal tersebut memunculkan tanda tanya besar di tengah masyarakat, terlebih informasi yang beredar menyebut hanya sebagian peserta yang dikenakan pemotongan tambahan tersebut.
Hadiah Juara Belum Cair
Tidak hanya soal bonus yang diduga dipotong dua kali, para peserta juga mengeluhkan hadiah juara yang hingga saat ini disebut belum cair sama sekali.
Situasi ini menambah polemik pelaksanaan MTQ tingkat provinsi tersebut. Di satu sisi bonus sudah dipotong dengan alasan pajak, namun di sisi lain hadiah utama justru belum diterima para juara.
“Hadiah belum cair, tapi bonus malah sudah dipotong pajak bahkan diminta lagi transfer ke rekening pribadi. Ini yang membuat peserta bertanya-tanya,” ujar salah satu peserta.
Zona Merah Sulsel Desak Kejati Turun Tangan
Menanggapi polemik tersebut, Rizal selaku Sekretaris Jenderal Zona Merah Sulawesi Selatan mendesak Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan untuk segera memeriksa seluruh panitia dan pihak-pihak yang diduga terlibat.
“Kalau memang semua transparan, buka saja seluruh anggaran, sumber dana, realisasi, termasuk mekanisme pemotongan bonus peserta. Jangan ada yang ditutupi,” tegas Rizal kepada awak media pada Sabtu, 09 Mei 2026.
Rizal juga menilai dugaan permintaan transfer ke rekening pribadi merupakan persoalan serius yang wajib ditelusuri aparat penegak hukum.
“Jika APH tidak mampu mengusut persoalan ini, maka patut ada dugaan gratifikasi yang terjadi sesama oknum,” tegasnya.
Desakan Audit Menyeluruh
Publik kini mendesak agar dilakukan audit menyeluruh terhadap pelaksanaan MTQ tingkat Provinsi Sulawesi Selatan di Maros, mulai dari pengelolaan anggaran, mekanisme pembayaran hadiah dan bonus, hingga dugaan aliran dana ke rekening pribadi.
Masyarakat berharap kegiatan religius sebesar MTQ tidak dicederai oleh persoalan administrasi maupun dugaan penyimpangan yang dapat merusak nilai sakral dan kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan kegiatan keagamaan.