Perusahaan China Tsingshan Mulai Operasikan Smelter Nikel 50 Ribu Ton

Screenshot_2023-08-22-09-29-01-00_40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b12

Jakarta – Perusahaan raksasa China, Tsingshan Group, mengoperasikan smelter nikel berkapasitas 50 ribu ton secara komersial di Indonesia.

Mengutip CNA, Senin (21/8) hal tersebut disampaikan oleh sumber yang mengetahui rencana tersebut tak disebutkan namanya.

Sumber tersebut mengatakan pabrik yang sudah lama beroperasi di Indonesia dan berbasis di Morowali, Sulawesi Tengah tersebut sudah mulai produksi secara komersial sejak pekan lalu dan menargetkan bisa mencapai sebesar 50 ribu ton sampai akhir tahun.

Tsingshan sendiri belum memberikan komentar resmi terkait dengan pernyataan sumber tersebut.

Selain itu, sumber juga mengatakan Tsingshan berencana untuk mengajukan permohonan agar nikel yang diproduksi di pabriknya terdaftar sebagai merek yang dapat dikirim di London Metal Exchange (LME), yang membutuhkan produksi stabil minimal tiga bulan.

Anak perusahaan Zhejiang Huayou Cobalt Co di China tersebut menerima persetujuan atas produksi nikelnya di pabrik berkapasitas 36.600 ton di provinsi Zhejiang untuk didaftarkan sebagai merek yang dapat dikirim di LME.

Jingmen Gem Co, unit dari GEM Co Ltd, juga mendaftarkan nikelnya dari pabrik berkapasitas 10 ribu ton di provinsi Hubei.

Diperkirakan akan lebih banyak produsen China mengajukan merek nikel mereka untuk dicatatkan di LME, terutama setelah LME memangkas waktu tunggu pencatatan sebagai bagian dari programnya untuk menghidupkan kembali volume perdagangan nikel setelah krisis 2022.

Volume merosot setelah harga LME naik dua kali lipat hanya dalam beberapa jam dalam perdagangan yang kacau pada 8 Maret 2022, mendorong LME untuk menangguhkan pasar nikelnya untuk pertama kalinya sejak 1988 dan membatalkan semua perdagangan nikel pada hari itu.

CNN

Bagikan: